Nilai Tambah dan Keengganan Petani Melakukan Fermentasi Biji Kakao Rakyat Desa Jambewangi Kecamatan Sempu

Yuli Hariyati, Indah Ibanah, Rena Yunita, Desy Arindi Putri Regina, Didik Suharijadi, M. Ghufron R, Rahaditya Dimas P, Hendy Firmanto

Abstract


Kecamatan Sempu merupakan satu-satunya kecamatan Penghasil Kakao terbesar di Kabupaten Banyuwangi, yang terletak di Desa Jambewangi. Hal ini dikarenakan Desa Jambewangi mempunyai produksi biji kakao cukup tinggi, namun masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan menggunakan 60 sampel petani sebagai responden. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah pada tahap pengolahan biji kakao rakyat jambewangi dan untuk mengetahui alasan petani tidak melakukan fermentasi biji kakao. Nilai tambah pada semua tahap pengolahan bernilai positif. Nilai tambah penjualan dari buah kakao gelondong menjadi biji basah sebesar Rp 1000/kg biji basah. Nilai Tambah biji basah menjadi biji kering non fermentasi sebesar Rp 3.000/kg biji kering non fermentasi. Nilai tambah biji basah menjadi biji kering fermentasi sebesar Rp 5.000/kg biji kering fermentasi. Nilai Tambah pengolahanbiji kering fermentasi menjadi bubuk coklat murni sebesar Rp. 7.331,97/kg biji kakao kering fermentasi. Petani kakao di Desa Jambewangi sebagian besar tidak melakukan fermentasi dan belum pernah terlibat dalam pelatihan fermentasi. Petani kakao desa Jambewangi seringkali melakukan penjemuran yang kurang benar, namun begitu umumnya petani mengethui kualitas biji kakao yang baik. Petani menjual biji kakao hanya kepada satu pedagang pengumpul, dan selanjutnya pedagang pengumpul menjual kepada pedagang besar luar kota atau mengolah menjadi biji fermentasi dan selanjutnya dijual ke pengolah cokelat.


Keywords


Nilai Tambah; Kakao; Petani; Fermentasi

References


Badan Pusat Statistik. 2022. Provinsi Jawa Timur dalam Angka 2022. Jawa Timur : Badan Pusat Statistik

Hadi, S. dan N. F. Fauzi. 2016. Peluang Pengembangan Agroindustri Berbasis Perikanan Laut di Dusun Payangan Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Marine Fisheries, 7(2): 191-201. https://doi.org/10.29244/jmf.7.2.191-201

Hayami, Y., T. Kawagoe, Y. Marooka dan M. Siregar. 1987. Agricultural Marketing and Processing in Upland Java: a Perspective From a Sunda Village. Bogor: CGPRT Centre.

Ismatullah, M.I., M.A.Fattah, Sahlan. 2022. Peran Pemuda Tani Terhadap Keberlanjutan Usahatani Padi di Desa Campagaya Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Jurnal Sains Agribisnis, 2 (1) : 32-39. https://doi.org/10.55678/jsa.v2i1.651

Karim, I., D. Fatmawaty, A. E. Wulandari. 2020. Agribisnis Kakao. Sleman : CV Budi Utama

Kementrian Perindustrian Republik Indonesia. Ekspor Lampaui USD1 Miliar, Kinerja Industri Pengolahan Kakao Semakin Manis. Diperoleh tanggal 07 Desember 2022, dari https://agro.kemenperin.go.id/berita/6506-kemenperin-ekspor-lampaui-usd1-miliar-kinerja-industri-pengolahan-kakao-semakin-manis

Mahdalena dan S. Roliani. 2018. Analisis Nilai Tambah Usaha Rumah Tangga Asinan Cempedak di Desa Riwa Kecamatan Batu Mandi Kabupaten Balangan. Zira’ah, 43(1): 40-51. http://dx.doi.org/10.31602/zmip.v43i1.1069

Manalu, Radot. 2018. Pengolahan Biji Kakao Produksi Perkebunan Rakyat untuk Meningkatkan Pendapatan Petani. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 9 (2) : 99-111. 10.22212/jekp.v9i2.1006

Maryanto, A.M., M. Nabiu, S. Widiono. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Petani Dalam Alih Komditi Kopi (Coffe sp) Ke Kakao (Theobrroma cacao L.) di Desa Tertap Kecamatan Jarai Kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Agrisep, 11 (2) : 133 – 144. https://doi.org/10.31186/jagrisep.11.2.133-144

Murtiningrum dan T. Bantacut. 2016. Review : Potensi dan Arah Pengembangan Agroindustri Berbasis Kakao di Provinsi Papua Barat. Agrointek, 10(1):1-11. https://doi.org/10.21107/agrointek.v10i1.2020

Nickyta, G., . Alfisyah. 2017. Pengaruh Nilai Tukar Harga Kakao Internasional dan Produksi Kakao Domestik terhadap Total Volume Ekspor Kakao di Indonesia. JAB, 52 (2) : 41-50. https://media.neliti.com/media/publications/201971-pengaruh-nilai-tukar-harga-kakao-interna.pdf

Putri, A. S., W. Supto, S. Prihawantara an R. C. D. Matheos. 2015. Value Chain Improvement for Cocoa Industry in Indonesia by Input-Output Analysis. IMECS, 1(2): 1-7. https://doi.org/10.15676/ijeei.2016.8.1.13

Rosita, I. Y., L. I. Ichdayati dan R. A. P. Sari. 2016. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Ekspor Biji Kakao Indonesia ke Malaysia. Agribisnis, 10(1): 181-202. https://doi.org/10.15408/aj.v13i1.11871

Sidabutar. 2013. Respons Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao) terhadap Pemberian Abu Janjang Kelapa Sawit dan Pupuk Urea pada Media Pembibitan. Agroekoteknologi, l(14): 43-53. 10.32734/jaet.v1i4.4437

Wahyudi, T., T. R. Panggabean, Pujiyanto. 2006. Panduan lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta : Penebar Swadaya




DOI: https://doi.org/10.32528/agribest.v7i1.8742

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Jurnal Agribest

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

INDEXING SERVICES

    

                  

 

View My Stats