Peran Tes Dynamic Visual Acuity dan Tes Kalori dalam Menilai Gangguan Keseimbangan pada Pasien Tuberkulosis yang Mendapat Terapi Streptomisin

Authors

  • Widayat Alviandi Universitas Indonesia
  • Brashto Bramantyo Universitas Indonesia
  • Jenny Bashiruddin Universitas Indonesia
  • Novra Widayanti Universitas Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.32637/orli.v48i2.249

Keywords:

dynamic visual acuity, tes kalori, elektronistagmografi, kelemahan vestibuler perifer bilateral

Abstract

Latar belakang: Gangguan keseimbangan merupakan efek samping pemberian streptomisin yang dapat menurunkan kualitas hidup. Saat ini belum didapatkan penelitian gangguan keseimbangan pada pasien tuberkulosis yang mendapat terapi streptomisin diperiksa menggunakan tes dynamic visual acuity (DVA) dan tes kalori. Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk melihat akurasi pemeriksaan keseimbangan dengan DVA pada pasien TB yang mendapatkan streptomisin dibandingkan dengan elektronistagmografi (ENG). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental untuk mengetahui perubahan hasil pemeriksaan fungsi keseimbangan vestibuler pada suatu kelompok pasien TB sebelum dan setelah 56 kali pemberian streptomisin, atau bila timbul keluhan gangguan keseimbangan dengan tes DVA dan tes kalori selama April-Oktober 2014. Digunakan rancangan uji diagnostik untuk membandingkan kedua cara pengukuran setelah pengobatan. Hasil: Setelah pemberian terapi didapatkan 31 (77,5%) dari 40 subjek dengan pemeriksaan kalori dan 30 (75%) dengan pemeriksaan DVA. Rerata nilai kalori sebelum terapi sebesar 93,5±32,07°/detik dan setelah terapi sebesar 82,30±38,43°/detik, terjadi perubahan sebesar -11,25±50,55°/detik. Median nilai kenaikan DVA sebelum terapi adalah 0 (minimal 0-maksimal 2) baris dan setelah terapi adalah 3 (minimal 0-maksimal 6) baris, terjadi perubahan sebesar 3 (minimal 0-maksimal 5) baris. Sensitivitas pemeriksaan DVA 83%, spesifisitas 27%, nilai duga positif 17%, nilai duga negatif 90%, rasio kemungkinan positif 1,13, dan rasio kemungkinan negatif 0,63 dengan pemeriksaan kalori sebagai baku emas. Kesimpulan: Pemeriksaan DVA dapat digunakan sebagai skrining pemeriksaan kelemahan vestibuler perifer bilateral pada pasien tuberkulosis yang mendapat terapi streptomisin.

Background: Impaired balance is the side effect of Streptomycin administration which can decrease the quality of life Up till now, there  is no research yet on dynamic visual acuity (DVA) and caloric test in tuberculosis (TB) patients receiving streptomycin therapy. Objective: This study aims to look at the accuracy of the examination using DVA in TB patients receiving Streptomycin, compared to using electronistagmography (ENG). Methods:  A pre-experimental study was used to determine changes in the vestibular function test results in a group of TB patients before and after56times administrationof Streptomycin, or when subjects complained of balance disorders, with DVA test and caloric test during April-October 2014Designed diagnostic test was used after treatment to compare the two methods of measurement. Result: After therapy there was 31 (77.5%) out of 40 subjects with caloric examination and in 30 (75%) with DVA examination. The mean value of caloric examination before therapy was 93.5±32.07°/sec and after therapy was 82.30±38.43°/sec, the change was -11.25±50.55°/sec. The median value of increased DVA  line before therapy was 0 line and after therapy was 3 line, there was a change of 3 (minimum 0-maximum 5) line. DVA examination has a sensitivity of 83%, a specificity of 27%, positive predictive value 17%, negative predictive value 90%, a positive likelihood ratio 1.13 and a negative likelihood ratio 0.63 with caloric examination as the gold standard. Conclusion: DVA examination can be used as a screening tool in bilateral peripheral vestibular weakness in TB patients who received Streptomycin therapy.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Widayat Alviandi, Universitas Indonesia

Departemen Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Indonesia

Brashto Bramantyo, Universitas Indonesia

Departemen Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Indonesia

Jenny Bashiruddin, Universitas Indonesia

Departemen Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Indonesia

Novra Widayanti, Universitas Indonesia

Departemen Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Indonesia

Downloads

Published

2019-01-30

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >> 

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.